Menjaga Ucapan

Suatu hari ibu pernah menasehati saya, kurang lebih menjelaskan mengenai “Menjaga Ucapan”, bahwa apa yang keluar dari mulut kita adalah yang menggambarkan hati dan pikiran kita. Ucapan kita kotor, kurang lebih begitulah gambaran hati dan pikiran kita. Nasihat itu seperti terpatri di pikiran saya, sehingga saya berusaha untuk menerapkan apa yang dinasehatkan ibu kepada saya, meski terkadang khilaf, saya berusaha untuk kembali belajar menerapkan nasihat ibu di dalam kehidupan saya. Tulisan ini di latarbelakangi oleh keresahan saya, mengenai banyak sekali anak-anak, remaja tanggung, orang dewasa bahkan orang tua yang masih belum bisa menjaga ucapan mereka dari perkara-perkara berkata kotor.

Saya melihat bahwa pendidikan tinggi, latar belakang kehidupan yang baik, harta yang memapankan, tingginya jabatan, cerdasnya otak, aktifnya dalam sebuah organisasi ternyata tidak pernah cukup untuk membuat seseorang paham atau sekedar tahu bahwa menjaga ucapan adalah sesuatu yang penting dalam berkehidupan.  Melihat hal tersebut, saya menjadi resah mengenai masa depan anak-anak yang terlahir dalam’keadaan putih-bersih’ dan hidup dilingkungan yang tidak ‘kondusif’ untuk membuat dia tumbuh menjadi ‘pribadi yang baik’.  Seperti yang kita ketahui, bahwasannya lingkungan adalah hal yang penting dalam memberikan pendidikan sekunder (setelah keluarga) bagi anak.

lisan

Menjaga lisan adalah penting. Jangan sampai karena mulut kita sendiri, kita terjerumus dalam kesalahan. Jangan sampai juga karena mulut kita, kita dapat menyakiti saudara kita yang lainnya. Muslim yang baik, adalah muslim yang mampu menjaga lisan, memanfaatkan lisan untuk sesuatu yang bermanfaat. Bila memang lisan ini tidak dapat menghadirkan pahala untuk diri kita, maka berusahalah agar tidak membuat lisan kita berdosa. Menjadi muhasabah sebenarnya untuk diri saya, ketika saya pun masih banyak kesalahannya. Dan menjadi semangat juga untuk diri saya untuk memberikan sesuatu kebaikan yang telah saya dapatkan untuk saya bagi kepada saudara yang saya pedulikan. Juga menjadi kesedihan untuk saya (sebenarnya), ketika saya tidak mampu menyampaikan kebaikan ini, padahal saya mengetahuinya. Juga ketika saya khilaf dalam mengamalkannnya. Maka tempat meminta ke istiqomahan adalah hanya kembali kepada Allah SWT. Semoga Allah mempermudah segala keinginan baik kita ter tunaikan.

Dalam tulisan ini juga, saya ingin menyampaikan rasa prihatin saya mengenai teman-teman saya yang banyak sekali mengatakan sesuatu yang kotor (kotoran, tindakan sara, dan “hewan kebun binatang”), sangat risih sebenarnya mendengar ucapan teman-teman saya, ingin sekali memberitahu kepada teman-teman, bahwasanya apa yang ia lakukan adalah bukan sesuatu yang baik (dalam segi etika maupun agama). Namun, saya berada di lingkungan yang menganggap hal tersebut adalah lumrah, adalah sesuatu yang biasa, sehingga, “hal baik” yang disampaikan menjadi justru yang dilihat “aneh”, dan dianggap sok “ter-baik”. Entah anggapan saya saja, atau bagaimana. Nyatanya, memang lingkungan saya (fakultas) seperti yang barusan saya sampaikan. Lepas dari kondisi yang saya sampaikan, sikap yang saya ambil adalah tetap melakukan apa yang saya anggap baik untuk diri saya, serta berusaha menjadi contoh (secara tidak langsung) bagi teman-teman saya. Saya berusaha untuk baik dalam akademis maupun non akademis, berusaha untuk berlaku baik untuk mendapatkan nilai akademis serta mendapatkan hasil yang memuaskan. Agar (secara tidak langsung) kelak bisa menjadi contoh bagi teman-teman saya. Meski, saya tidak dapat secara langsung menyampaikan, saya berharap teman-teman bisa mengambil sesuatu yang baik, yang berusaha saya bawa kedalam lingkungan saya.

Maka, yang bisa saya harapkan; Allah dapat menghendaki saya untuk terus berbenah diri menjadi seorang perempuan yang senantiasa gemar memperbaiki diri, serta berharap semoga orang yang saya sayangin, teman-teman saya, guru, keluarga dan teman-teman muslim lainnya yang saya sayangi dapat Allah kehendaki untuk mendapatkan petunjuk olehNya.

Aamiin.

Al-Quran Surat Al-Baqoroh :142

 

سَيَقُولُ ٱلسُّفَهَآءُ مِنَ ٱلنَّاسِ مَا وَلَّىٰهُمْ عَن قِبْلَتِهِمُ ٱلَّتِى كَانُوا۟ عَلَيْهَا ۚ قُل لِّلَّهِ ٱلْمَشْرِقُ وَٱلْمَغْرِبُ ۚ يَهْدِى مَن يَشَآءُ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Artinya : Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: “Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus“.

Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah.

Wallahualam bishawab.

Semoga kita senantiasa dalam lindunganNya.

Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s