Menyikapi Rintangan

“Kamu itu, inginnya aku begini dan begitu. Sungguh, bukannya tak mau. Tapi, aku lebih tau bagaimana kapasitasku. Bukan aku tak peduli, tapi aku tidak mau kalau pada akhirnya aku menerima, tapi aku tak menjalankan amanah tersebut dengan baik. Jangan hanya karena tidak ada orang selain aku, lantas dijagakannya diriku atas posisi tersebut. Kemudian, ketika aku menerimanya dan tidak bisa menjalankannya dengan maksimal kamu menggerutu bilang kalau aku tidak niat menjalankannya.”

“Kamu salah, bukan aku tidak niat. Kalau saja aku tidak niat. Sudah aku abaikan dirimu sedari awal. Pahamilah, aku ‘kan sudah bilang sedari awal, kalau apa yang pernah kamu tawarkan kepadaku bukan kapasitasku, bukan bidangku, jadi, kuharap, kamu tidak lagi menggerutu. Toh bukankah ini sebagian dari kesalahanmu yang kau timpakan kepadaku?”

“Ku tanya, Kalau kau jadi aku, apa kamu mau menerimanya, menjalankannya padahal yang diterima dan dijalankannya adalah bukan berasal dari hati nuraninya. Hanya karena menghargaimu dan percaya kepada sisa semangatku lah aku menjalankan apa yang kau inginkan atasku dan bertahan hingga sekarang. Meskipun sungguh itu bukan keinginanku.”


Ya, akan ada suatu masa kita akan menerima atau menjalankan sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan hati nurani kita atau tidak sesuai dengan passion kita. Akan ada suatu masa, kamu akan ‘dijagakan’ atas sesuatu yang itu bukan keinginanmu, tapi harus menjalankan hal tersebut hanya karena kamu ingin menjaga perasaan orang, agar tidak kecewa.

Malas? Iya.

Kesal? Tentu saja.

Terlebih ketika amanah yang ditimpakan kepadamu itu punya masa waktu yang lama dengan beban yang tak ringan. Terlebih ketika amanah yang ditimpakan kepadamu itu tidak sesuai dengan passionmu. Sudahlah, remuklah kamu.

Masa tersebut pernah aku alami, atau lebih tepatnya sedang aku alami. Akan lebih banyak rasa jenuhnya, dibanding rasa menikmati. Ya, jelas, wong kamu tidak pernah suka dengan hal tersebut, bagaimana bisa nikmat menyelami. Inginnya, kabur saja. Tapi tidak bisa. Inginnya, lari saja. Tapi tidak mungkin. Sebab memang tidak ada yang bisa lagi selain aku, sebab bilamana aku melepas tanggung jawab tersebut akan lebih banyak keburukan yang akan muncul.

Ya… Suatu saat kamu akan mengalami masa seperti apa yang sedang aku alami.

Lantas? Apa yang harus dilakukan?

Lari? Tidak.

Lari dari hal-hal yang seperti itu justru akan membuat kita menjadi seorang yang mudah kalah dengan tantangan. Ya, anggap saja ini ujian. Buat ujian ini, jadi pelajaran yang paling bisa membuat kita dewasa. TOH, kesulitan yang akan dialami tidak akan terus sulit. Masih ada teman, yang bisa membantu sekalipun bukan tempat untuk menaruh tanggung jawab yang ada di punggungmu.  TOH, Allah membebani seseorang tidak akan melebihi kapasitas hambanya. Meskipun kita merasa apa yang kita timpakan tidak seseuai dengan kapasitas kita.

Ya. Allah sedang percaya aku bisa melewatinya meski tidak dengan ‘satu kali langkah’, Allah sedang membuat aku belajar menghadapi ujian yang ‘seperti ini’. Ya, anggap saja amanah yang sedang aku bawa ini, yang aku rasa berat ini, adalah bahagian dari latihanku untuk menuju suatu amanah yang lebih besar dan berat nantinya. Ya. Think Positive aja ke Allah. Kalau udah mentok, mengadu aja ke Allah. Bilang, “Minta kesabaran, kekuatan, dan kemudahan”

Kalau jenuh. Pergi saja. Ya, pergi saja. Jenuh adalah suatu hal yang sangat wajar. Seorang yang hidup dalam passionnya tentulah pernah jenuh, namun frekuensinya tidak terlalu sering . Jadi, jenuh itu wajar. Sedang jenuh? tinggalkan saja barang sebentar. Bicara dan obatilah pikiran dan hati dulu. Pikirkan kebaikan yang kamu dapatkan dari amanah tersebut. Jangan terlanjur kesal dan kabur begitu saja. Amanah itu harus diselesaikan, bukan untuk ditingkalkan.

Lakukanlah sebisa kita, tidak ada yang menyalahkan ketika kita sudah berupaya untuk melaksanakannya dengan baik. Itu justru lebih akan dihargai, ketimbang kita kabur dan lari dari amanah yang sedang kita jalani.

Semangat. Ujian amanah ini, semoga membuat tambah dewasa dalam menyikapi suatu riintangan.

Percaya. Bahwa kesulitan ini akan berlalu dengan sendirinya. Menjalaninya satu-satu lebih baik, dari pada mengeluh atas rintangan yang ada di depan. Ya, satu poin penting.

Mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan masalahmu. Ia justru akan membuatmu semakin tambah terbebani dan membuatmu tidak pernah melihat sisi positif dari yang sedang kamu jalani. Akibatnya, tugasmu tidak pernah selesai tapi masalahmu akan terasa semakin menggunung.

Ya. Lakukan saja sebisa kita.

Sebab, usaha kita adalah bagian dari ikhtiar kita.

Semoga sesuatu yang awalnya aku anggap masalah ini, bisa menjadi pelajaran buatmu.

Dan doakan, semoga aku dapat melewatinya dengan sebaik-baiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s