Sebuah Monolog : Bait Kekecewaan

Kamu kan tahu, kalau kamu itu sebagian nama yang pernah ku sebut dalam doaku.
Kamu kan tahu, kalau kamu itu salah satu puzzel paling baik dalam salah satu bagian dari kehidupanku ini.
Kamu juga tahu, kalau tidak ada orang selain kamu, yang bisa membuatku bertahan di masa terburukku.
Kamu tahu, bahwa hal yang paling aku takutkan adalah kehilangan dirimu.

Kamu tahu itu semua. Bahkan ke “tahu” an kamu pada hal lainnya yang membuat pertemanan atau persahabatan menjadi lengket permen karet. Tapi ternyata, semua ke “tahu” an mu itu nggak cukup membuatmu benar-benar sadar bahwa saat itu, aku, sedang kecewa denganmu.

Aku merasa seperti dihujam. Tanpa isyarat apapun darimu.
Aku merasa tertinggal. Tanpa sempat bilang selamat tinggal padamu.
Aku merasa tersisih. Seperti tulang-tulang ikan bekas makananmu.
Aku merasa…. ya cukuplah…
Menjelaskan semua perasaanku toh tidak akan membuatmu menjadi tahu kan?

Hey, kamu, apa kamu tahu kalau aku sangat kecewa denganmu?
Apa kamu tahu, bahwa aku terus berusaha bangkit dari kekecewaanku untuk kembali lagi bisa percaya pada dirmumu?
Apa kamu tahu, disaat itu pula aku sedang menambal kasih sayangku satu-satu, untuk bisa kembali lagi seperti dulu, untuk bisa tetap nyaman bersama dirimu?
Apa kamu tahu, aku sedang dan terus menghibur diriku sendiri, berbicara pada hati, bahwa kamu nggak mungkin sejahat itu padaku ?

Kamu nggak tahu kan?
Iya, benar, pasti kamu nggak tahu.

Sebab,  sekarang, yang kau tahu, cuma tentang teman barumu.
Sebab yang kau tahu cuma tentang pekerjaanmu.
Sebab yang kau tahu cuma tentang organisasimu.
Sebab yang kau tahu cuma tentang posisimu yang agaknya kau lihat lebih tinggi dariku.
Sebab yang kau tahu cuma tentang Percintaanmu.
Hidupmu.
Urusanmu.
Dan, cara mengecewakan diriku.

Hey, kamu, apa nggak ada niatan untuk kembali lagi seperti dulu?
Apa kamu nyaman begini? Aku sih tidak.
Kelihatannya saja aku sedang baik-baik saja, tapi, asal kau tahu, remukku di dalam hatiku.

Hey, kamu, bantu aku, membirukan langit-langit kelabu yang terbentang diantara kita.
Bantu aku, merobohkan sekat-sekat tanpa nama yang berdiri diantara kita.
Memaniskan apa yang sebelumnya pahit.
Mewarnai apa yang sebelumnya kelam.

Aku tunggu kamu.
Dengan pengharapan yang entah akan jadi nyata, atau jutru sebaliknya.

Tapi, meski begitu,.
Aku tetap menunggumu
Untuk melakukan hal yang membuat aku dan kamu, kayak dulu.
Ya. Aku tetap menunggumu.

.

.
#FIKSI
#MONOLOG


Unduh versi audio di link berikut :


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s