Sebuah Monolog: Membohongi Diri Sendiri

Aku tahu. Apa yang sebenarnya kamu rasakan tanpa kamu bercerita. Meski pada awalnya sikap menjauhmu itu membuatku merasa risih ribuah kali rasanya. Aku menaunginya kok, sebab aku pernah merasakannya. Tapi, sekali lagi, janganlah bohong dengan perasaanmu sendiri. Asal kamu tahu, aku bisa membaca seluruh gestur tubuhmu, manakala ketika kamu bilang “tidak”, aku tahu, dikedalaman hatimu, kamu bilang “iya”. Manakala kamu bilang “Nggak apa-apa”, aku tahu, sebenarnya kamu “apa-apa”. Ya kan?
Ya, kamu berusaha menyembunyikannya. Tak apa, aku menghargai upayamu, sebab aku pernah berada dipihakmu. Waktu itu, dulu, saat sakura-sakura yang gugur itu ada di dekatku. Ya, aku pernah menjadi dirimu, dipihakmu, memendam seluruh rasa atau apalah itu yang menggebu-gebu rasanya. Sulit memang. Tapi aku berhasil menyembunyikannya, sementara kamu, tidak.

Lain kali, kamu harus kursus bahasa tubuh denganku. Agar kamu tahu, agar kamu bisa mempraktikkannya, bagaimana tetap bisa dekat dengan tersangka yang membuat hatimu berdebar, tanpa membuatmu terlihat malah aneh, atau terlihat kikuk di depannya.

Hmmm asal kamu tahu, sebenarnya aku sudah nyaris hafal. Tentang segala adeganmu yang sedang berupaya membohongi dirimu seniri, juga membohongiku ding. Sungguh terbaca. Hey, kamu, tolong berhentilah bertingkah demikian, hal itu akan membuatmu hancur berkali-kali rasanya. Sadarilah, semakin lama kamu bertindak begitu, semakin akan sakit rasanya ketika akhirnya tak sesuai dengan harapmu.

Jujurlah saja dulu.
Kenapa?
Tak mau?
Orang yang membuat jantungmu berdebar itu tidak akan menjauhimu kok. Dia akna jauh lebih dekat denganmu, malah. Walau hanya sebagai teman. Dia juga nggak akan nyakitin kamu kok, jadi, jujur saja. Tak apa. Sungguh tak apa.

Sebab, sadarilah, sebenarnya ia sedang menunggu-nunggu pengakuanmu. Bukan untuk membuatmu lebih jauh darinya. Tapi sebaliknya. Walau hanya sebagai seorang sahabat, sungguh dia sangat ingin lebih dekat lagi denganmu.

Segeralah.
Ia menunggumu. Unutk bisa lebih dekat denganmu, seperti dulu.
Meski nantinya, pengakuanmu itu bukan untuk menjadikannya kekasih hatimu.

.

.

#FIKTIF
#MONOLOG


Versi audio silahkan klik link berikut :


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s