Belantara

Aku menemukanmu dalam belantara

Mendekat ku eggan

Menyentuhmu, aku tak pernah

Hanya melihatmu dari kejauhan

Dari semak dan dedaunan yang tumbuh di sekitarmu

 

Aku menemukanmu dalam belantara

Diantara ratusan raga yang tampaknya lebih indah dari dirimu

Namun entahlah,   jatuh hatiku,

Rona hatiku,  hanya padamu

 

Kau, tiadalah aku sanggup mendekatimu

Bila melihatmu saja membuat aku gugup tak menentu

Sungguh, aku hanya takut dan meragu

Bila nanti aku mendekat mungkin saja kamu layu

Atau bila ku tertarik, lantas memetik,

Nanti kau mati,

Jadi ku rasa, melihatmu dari belukar,

Adalah cara terbaik untuk menjagamu, agar tetap tumbuh

 

Kau, ketahuilah,

Menganggumi itu, selalu menimbulkan perasaan serbasalah

Dan rasa tak menentu,

Pengungkapannya hanya membuat pikiranku menjadi rancu

 

Sebab, tak selamanya cinta yang tumbuh ini, berakhir temu

Sebab, bisa saja cinta yang tumbuh ini, bukan milik aku dan dirimu

Sebab, bisa saja kumbang terbaik dimatamu itu,

Bukan aku…

Sebuah Monolog : Bait Kekecewaan

Kamu kan tahu, kalau kamu itu sebagian nama yang pernah ku sebut dalam doaku.
Kamu kan tahu, kalau kamu itu salah satu puzzel paling baik dalam salah satu bagian dari kehidupanku ini.
Kamu juga tahu, kalau tidak ada orang selain kamu, yang bisa membuatku bertahan di masa terburukku.
Kamu tahu, bahwa hal yang paling aku takutkan adalah kehilangan dirimu.

Kamu tahu itu semua. Bahkan ke “tahu” an kamu pada hal lainnya yang membuat pertemanan atau persahabatan menjadi lengket permen karet. Tapi ternyata, semua ke “tahu” an mu itu nggak cukup membuatmu benar-benar sadar bahwa saat itu, aku, sedang kecewa denganmu.

Aku merasa seperti dihujam. Tanpa isyarat apapun darimu.
Aku merasa tertinggal. Tanpa sempat bilang selamat tinggal padamu.
Aku merasa tersisih. Seperti tulang-tulang ikan bekas makananmu.
Aku merasa…. ya cukuplah…
Menjelaskan semua perasaanku toh tidak akan membuatmu menjadi tahu kan?

Hey, kamu, apa kamu tahu kalau aku sangat kecewa denganmu?
Apa kamu tahu, bahwa aku terus berusaha bangkit dari kekecewaanku untuk kembali lagi bisa percaya pada dirmumu?
Apa kamu tahu, disaat itu pula aku sedang menambal kasih sayangku satu-satu, untuk bisa kembali lagi seperti dulu, untuk bisa tetap nyaman bersama dirimu?
Apa kamu tahu, aku sedang dan terus menghibur diriku sendiri, berbicara pada hati, bahwa kamu nggak mungkin sejahat itu padaku ?

Kamu nggak tahu kan?
Iya, benar, pasti kamu nggak tahu.

Sebab,  sekarang, yang kau tahu, cuma tentang teman barumu.
Sebab yang kau tahu cuma tentang pekerjaanmu.
Sebab yang kau tahu cuma tentang organisasimu.
Sebab yang kau tahu cuma tentang posisimu yang agaknya kau lihat lebih tinggi dariku.
Sebab yang kau tahu cuma tentang Percintaanmu.
Hidupmu.
Urusanmu.
Dan, cara mengecewakan diriku.

Hey, kamu, apa nggak ada niatan untuk kembali lagi seperti dulu?
Apa kamu nyaman begini? Aku sih tidak.
Kelihatannya saja aku sedang baik-baik saja, tapi, asal kau tahu, remukku di dalam hatiku.

Hey, kamu, bantu aku, membirukan langit-langit kelabu yang terbentang diantara kita.
Bantu aku, merobohkan sekat-sekat tanpa nama yang berdiri diantara kita.
Memaniskan apa yang sebelumnya pahit.
Mewarnai apa yang sebelumnya kelam.

Aku tunggu kamu.
Dengan pengharapan yang entah akan jadi nyata, atau jutru sebaliknya.

Tapi, meski begitu,.
Aku tetap menunggumu
Untuk melakukan hal yang membuat aku dan kamu, kayak dulu.
Ya. Aku tetap menunggumu.

.

.
#FIKSI
#MONOLOG


Unduh versi audio di link berikut :


 

Sebuah Monolog : Kesakitan Dari Sebuah Penghianatan

Ada kabar yang tidak mengenakkan. Menyambangi telingaku sore itu. Menyesakkan, membuat aku berkali-kali mempertanyakan “Apakah benar?” dan ratusan kali pengelakkan disebabkan karena rasa tak percaya.

Bagaimana bisa, seseorang yang sudah aku anggap sahabat, membohongiku?

Bagaimana bisa?

Dan aku, beneran tidak tahu soal itu. Soal, bahwa dia sedang bohong dengan keadaannya yang katanya “Sedang baik-baik saja”

AH. Tunggu sebentar, aku mau menghela nafas panjang, sungguh aku tidak percaya. Rasanya seperti penghianatan, tapi bukan penghianatan. Bingung? Aku jauh lebih bingung sembari menahan kesakitanku karena merasa terbohongi oleh sahabatku.

Semenyakitkan ini ternyata.
Seabsurd ini–karena memang tak terjelaskan.

AH. Aku harus bagaimana? Memulai darimana untuk mempertanyakan kebenarannya?

Dia, atau dia yang harus ku percaya?
Nyatanya kepada Dia yang menampakkan sebuah fakta yang lebih jelaslah yang akhirnya membuat aku lebih percaya. Ketimbang dia–orang yang sudah kuanggap sahabatku sendiri.

Tapi bagaimana bisa aku jadi tidak percaya lagi dengan dia?
Bagaimana bisa, karena fakta itu membuat aku jauh dari dia?
Bukankah kata isi hatiku, dia sudah aku anggap sebagai sahabatku sendiri?

AH.
Aku bingung. Sangat bingung.
Sakit. Sangat sakit. Bak mencari jalan pulang diantara ratusan persimpangan, sembari menahan rasa sakit.
Ya. Semenyakitkan ini ternyata rasanya dibohongi.
Oleh sahabat sendiri.

Hei. Kamu. Kau kah itu?
Benarkah itu?
Kabar itu sungguh-sungguh menyesakkan aku.
Hei. Kamu. Tolong sadarkan aku, bangunkan aku, dalam tidur di mimpi burukku!
Tolong yakinkan aku, bahwa, kamu tidak “begitu” kan? Iya, kan?

Kumohon. Jangan.
Kumohon aku dan mereka hanya sedang salah sangka.

.

.

#FIKTIF
#MONOLOG


Unduh audio di link berikut :


 

Sebuah Monolog: Membohongi Diri Sendiri

Aku tahu. Apa yang sebenarnya kamu rasakan tanpa kamu bercerita. Meski pada awalnya sikap menjauhmu itu membuatku merasa risih ribuah kali rasanya. Aku menaunginya kok, sebab aku pernah merasakannya. Tapi, sekali lagi, janganlah bohong dengan perasaanmu sendiri. Asal kamu tahu, aku bisa membaca seluruh gestur tubuhmu, manakala ketika kamu bilang “tidak”, aku tahu, dikedalaman hatimu, kamu bilang “iya”. Manakala kamu bilang “Nggak apa-apa”, aku tahu, sebenarnya kamu “apa-apa”. Ya kan?
Ya, kamu berusaha menyembunyikannya. Tak apa, aku menghargai upayamu, sebab aku pernah berada dipihakmu. Waktu itu, dulu, saat sakura-sakura yang gugur itu ada di dekatku. Ya, aku pernah menjadi dirimu, dipihakmu, memendam seluruh rasa atau apalah itu yang menggebu-gebu rasanya. Sulit memang. Tapi aku berhasil menyembunyikannya, sementara kamu, tidak.

Lain kali, kamu harus kursus bahasa tubuh denganku. Agar kamu tahu, agar kamu bisa mempraktikkannya, bagaimana tetap bisa dekat dengan tersangka yang membuat hatimu berdebar, tanpa membuatmu terlihat malah aneh, atau terlihat kikuk di depannya.

Hmmm asal kamu tahu, sebenarnya aku sudah nyaris hafal. Tentang segala adeganmu yang sedang berupaya membohongi dirimu seniri, juga membohongiku ding. Sungguh terbaca. Hey, kamu, tolong berhentilah bertingkah demikian, hal itu akan membuatmu hancur berkali-kali rasanya. Sadarilah, semakin lama kamu bertindak begitu, semakin akan sakit rasanya ketika akhirnya tak sesuai dengan harapmu.

Jujurlah saja dulu.
Kenapa?
Tak mau?
Orang yang membuat jantungmu berdebar itu tidak akan menjauhimu kok. Dia akna jauh lebih dekat denganmu, malah. Walau hanya sebagai teman. Dia juga nggak akan nyakitin kamu kok, jadi, jujur saja. Tak apa. Sungguh tak apa.

Sebab, sadarilah, sebenarnya ia sedang menunggu-nunggu pengakuanmu. Bukan untuk membuatmu lebih jauh darinya. Tapi sebaliknya. Walau hanya sebagai seorang sahabat, sungguh dia sangat ingin lebih dekat lagi denganmu.

Segeralah.
Ia menunggumu. Unutk bisa lebih dekat denganmu, seperti dulu.
Meski nantinya, pengakuanmu itu bukan untuk menjadikannya kekasih hatimu.

.

.

#FIKTIF
#MONOLOG


Versi audio silahkan klik link berikut :


 

Generasi Harapan by Izzatul Islam

Dimana dicari pemuda Kahfi
Terasing demi kebenaran hakiki
Dimana jiwa pasukan Badar berani
Menoreh nama mulia perkasa abadi

Umat melolong di gelap kelam
Tiada pelita penyinar terang
Penunjuk jalan kini membungkam
Lalu kapankah fajar kan datang

Mengapa kau patahkan pedangmu
hingga musuh mamapu membobol betengmu
Menjarah menindas dan menyiksa
Dan kita hanya diam sekedar terpana

Bangkitkan negri lahirkan generasi
Pemuda harapan tumbangkan kedzaliman

Wajah duia Islam kini memburam
Cerahkan dengan darahmu
Panji Islam telah lama terkuali
Menanti bangkit kepalmu

Kisah dari Selatan Jakarta by White Shoes and The Couples Company

Ijinkan hamba menutur sebuah cerita
Yang terpenggal di selatan Jakarta
Bukan gegap gempita, serta baik buruk sarana
Tiada angan hampa penuh peluh ataupun nestapa

Ini kisah yang tak akan mungkin terlupa
Tanpa nuansa asmara dan cinta
Tak perlu ada rahasia, dusta bahkan tipu daya
Semua terasa hambar nampaknya

(jika gundah yang tuan rasa)
Jika gundah tuan rasa
Gulana harap sebuah makna
Ancam hamba ‘kan disiksa, tak mengapa
(pun hamba tak kuasa menutur paksa makna cerita Hamba tak ingin ada kecewa)

Hapus air mata, titisan duka lara
Jua hamba tak memelas dipuja

Derita dan buruk sangka, suka cita penuh tawa
Entah apapun hendak dikata
(jika gundah yang tuan rasa)
Jika gundah tuan rasa
Gulana harap sebuah makna
Ancam hamba ‘kan disiksa tak mengapa

(jika ada yang bertanya, oh ini kisah tentang apa)
Maafkanlah hamba oh sungguhpun hamba tak kuasa
(baiknya duduk manis saja, simak hamba bercerita)
Dan tak perlu tuan tanya
Hamba tak akan pernah mampu untuk menjawabnya